Selasa, 30 Desember 2008

RESOLUSI BUAT BANGSAKU

Rabu, 15 Oktober 2008 | 23:14 WIB

PERINGATAN Sumpah Pemuda ke 80 tahun –28 Oktober 2008– gaungnya mulai terdengar. Dari Bumi Borneo (Kalimantan Timur), sebuah cita-cita mulia tengah digagas para anak-anak bangsa yang peduli kepada negaranya. Berawal dari obrolan ringan di warung kopi di tepi jalan kawasan Balikpapan, Kalimantan Timur, spirit besar telah lahir untuk mewujudkan Indonesia bermartabat.

Saya mengikuti dan mendengar rencana anak-anak muda dari berbagai elemen masyarakat di Kalimantan Timur yang hendak menumbuhkan semangat baru buat bangsanya. Mereka ada yang bekerja sebagai hakim, pengacara, anggota Polri, wartawan, ormas dan elemen lainnya.


“Hentikan dan hentikan cacian terhadap bangsa ini. Bagaimanapun juga Indonesia adalah negara kami. Kita tinggalkan peristiwa masa lalu, kita ambil hikmah atau maknanya lalu kita isi bangsa ini dengan pemikiran-pemikiran yang bijak dan solusi yang tepat. Bagaimanapun Indonesia tak boleh disakiti, tak boleh diperolok, tak boleh disesali. Ini menyangkut citra diri dan masa depan bangsa. Karena itu mari kita kobarkan dan kita hidupkan lagi semangat atau roh dari Sumpah Pemuda,” kata seorang diantara mereka.

Untuk menggali dan mengangkat roh serta mengimplementasikan spirit dari Sumpah Pemuda 1928 bukan pekerjaan mudah. Butuh perekat… Kita semua terlanjur berada dalam sekat-sekat atau warna yang sengaja kita ciptakan sendiri yang pada akhirnya akan menjerumuskan kita ke dalam wilayah konflik (perpecahan) akibat pertikaian kepentingan yang tak pernah berhenti. “Untuk itu kita akan mengadakan Kongres Pemuda se Kaltim. Spirit Sumpah Pemuda ini, kita hidupkan dari Bumi Borneo,” tambah peserta diskusi lainnya.

Sebenarnya, upaya untuk mengangkat kembali roh Sumpah Pemuda sudah pernah digagas oleh para pelajar Indonesia sekitar tahun 2007. Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) –sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Hasilnya? Tak banyak yang tahu, apa action plan dari kegiatan itu.

Sebaliknya, dari Bumi Borneo dalam beberapa pekan terakhir, saya mendengar para penggagasnya sudah menyiapkan langkah-langkah konkrit untuk mewujudkan cita-cita teramat mulia ditengah krisis kebangsaan. Mereka juga sudah menyusun berbagai macam masalah yang menjadi PR besar buat anak-anak bangsa. Di antaranya, hilangnya krisis kepercayaan dan harga diri sebagai bangsa, menurunnya spirit dalam membesarkan dan mengharumkan nama baik Indonesia, menurunnya semangat nasionalisme kebangsaan, terjebak dalam wilayah kontraproduktif (saling mencaci maki, menghujat dan menjelek-jelekan bangsanya sendiri hingga melahirkan antipati), hilangnya etika dalam berdemokrasi, berbangsa dan bernegara.

Filosofi dari Kongres Pemuda se Kaltim yang diharapkan bakal menjadi pintu masuk kesadaran para pemimpin, anak-anak bangsa dan masyarakat itu diantaranya adalah:
- Menggali kembali spirit atau roh Sumpah Pemuda 1928 –nilai-nilai kebangsaan
- Memulihkan dan menciptakan kesadaran dan rasa percaya diri sebagai bangsa
- Sebagai perekat dan pemersatu bangsa dalam menjawab berbagai macam tantangan
- Mengangkat, melindungi dan memulihkan harkat dan martabat bangsa
- Menyatukan komitmen dan mengimplementasikan visi dan misi kebangsaan
- Membantu memberikan solusi terhadap masalah-masalah bangsa
- Sebagai pintu masuk atau prakondisi menuju Kongres Pemuda Indonesia

Dari spirit itu, mereka berharap jiwa atau spirit dari Sumpah Pemuda untuk membesarkan dan mengharumkan nama baik Indonesia di mata masyarakat Indonesia dan dunia internasional, kembali ternyalakan. Kedua, mereka juga akan menjadikan menjadikan spirit Sumpah Pemuda 1928 sebagai batu pijakan dan katalisator pemuda agar lebih siap menghadapi berbagai macam tantangan di masa mendatang.

Ketiga, menggelorakan spirit nasionalisme kepada seluruh komponen bangsa. “Tetapi bukan nasionalisme sempit,” kata Agus Amri, salah satu motor dari gerakan yang akan ia mainkan. “Selain itu kami ingin melakukan gerakan penyadaran kepada semua kekuatan bangsa agar kembali berperan dengan menggunakan jiwa, hati dan pikiran yang bersih (bermartabat) agar lebih mengedepankan kepentingan bangsa di atas segala-galanya. Tujuan kami lainnya adalah menggali dan menggerakan seluruh potensi untuk pencerdasan dan kecerdasan bangsa dan menghimpun kekuatan pemuda agar bersungguh-sungguh memikirkan dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsanya,” ungkapnya.

Diharapkan 10 tahun setelah Kongres Pemuda se Kaltim ini diadakan, maka akan melahirkan semangat baru dalam menjaga harga diri bangsa dan negara, meningkatnya kapasitas dan kualitas sumber daya manusia (generasi muda) di seluruh Indonesia, meningkatnya kecintaan terhadap bangsa dan negara, meningkatnya rasa tanggung jawab untuk memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara agar lebih baik dan bermartabat, memberdayakan kekuatan dan segenap potensi generasi muda dan melahirkan kader-kader bangsa berkualitas sebagai calon pemimpin bangsa.

Dari rencana itu, saya menangkap kesan bahwa gerakan pemuda yang akan dinyalakan dari Bumi Borneo, merupakan langkah-langkah sarat nilai dan penuh dengan kearifan. Jarang sekali ada pemuda tempo kini yang peduli dan mau berpikir jauh ke depan (visioner) buat bangsa dan negaranya. Sebuah langkah tepat yang bisa menjadi bahan renungan kita semua.

Kabarnya, acara Kongres Pemuda se Kaltim akan dikemas selama tiga hari, mulai dari tanggal 27, 28 dan 29 Oktober 2008. Tanggal 27 akan ada rapat akbar yang dihadiri ribuan pemuda di Samarinda. Mereka akan merumuskan langkah-langkah konkrit buat bangsanya, dan esoknya dilanjutkan dengan pembacaan Sumpah Pemuda hasil Kongres se Kaltim.

Baru pada tanggal 29 Oktober, panitya akan mendatangkan para capres ke Bumi Etam untuk diajak berdialog, terkait dengan hasil Kongres Pemuda se Kaltim. “Kita ingin mengetahui visi dan misi mereka setelah mendengar dan memahami resolusi dari Kongres Pemuda ini. Apa langkah-langkah konkrit yang akan mereka lakukan ketika menjadi presiden di negeri ini,” tambah Agus Amri. (achmad subechi)

Tidak ada komentar: